Friday, May 15, 2020

Rahasia Keberhasilan dan Kelancaran Rezeki!



DOA serta tahajud merupakan kunci bagi manusia untuk membuka pintu kesuksesan dalam kehidupan. Kedua faktor itu tanpa di barengi ikhtiar akan terasa sulit bagi kita untuk mendekati pintu keberhasilan itu.

Di mana kita bisa mendapatkan kunci kesuksesan tersebut? Ada pada sabar. Keberhasilan individu dalam mencapai target kesuksesan adalah sabar dalam menjalankan tiga hal diatas. Jika tergesa-gesa tanpa melewati proses sabar maka hasilnya pun tidak akan maksimal.

“Kerjakanlah shalat malam, karena shalat malam itu kebiasaan orang-orang yang shaleh sebelum kamu dahulu, juga suatu jalan untuk mendekatkan diri kepada TUHAN kalian, juga sebagai penebus pada segala kejahatan (dosa) mencegah dosa serta dapat menghindarkan penyakit dari badan” (HR.Imam Tarmidji & Ahmad)

Untuk memperlancar semua itu dalam sebuah hadits Nabi Muhammad pernah bersabda, seperti yang di riwayatkan Al Baihaqi: “Turunkan (datangkanlah) rizki mu melalui sedekah.” Hadits tersebut menjelaskan bahwa segala sesuatu yang mengacu pada kesuksesan. Seperti memancing seekor ikan. Kita harus melempar umpan kebaikan terlebih dahulu agar banyak ikan rezeki yang melahap habis umpan yang kita lemparkan. Salah satu umpan tersebut adalah sedekah.

Hal ini sangat dianjurkan bagi siapa saja, dari anak SD sampai mahasiswa bahkan pekerja swasta sampai konglomerat sekali pun bisa melakukan apa yang dianjurkan hadits tersebut. Semoga catatan kecil yang begitu singkat ini mampu menyuntik spirit ruhani Anda dalam menjalankan kehidupan hari ini.

Sumber (islampos.com)

Orang yang Diusir Rasulullah dari Masjid!



SUATU hari beberapa orang munafik berada di masjid Nabi. Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam melihat mereka sedang berbincang di antara mereka dengan suara lirih sambil mendekat pada yang lain. Lalu Rasulullah menyuruh sahabatnya untuk mengusir mereka dengan tegas dari masjid.

Abu Ayyub Khalid bin Zaid bin Kutaib beranjak berdiri dari tempat dimana ia duduk lalu berjalan ke tempat Amr bin Qais saudara Bani Ghanm bin Malik bin An-Najjar. Amr bin Qais adalah pemilik patung-patung sesembahan mereka di zaman jahiliyah. Lalu ia memegang kuat kaki Amr bin Qais dan menariknya hingga ia keluar dari masjid.

Amr bin Qais berkata kepada Abu Ayyub, “Wahai Abu Ayyub, pantaskan engkau mengusir diriku dari tempat pengeringan kurma ( masjid Nabi) Bani Tsa’labah?”

Lalu Abu Ayyub bergerak menuju tempat Rafi’ bin Wadi’ah, salah seorang Bani An-Najjar. Ia pegang kuat leher baju Rafi’ bin Wadi’ah lalu menariknya dengan kencang. Ia tampar wajahnya, mengusirnya dari masjid seraya berkata, “Celakalah engkau wahai orang munafik yang menjijikkan. Wahai munafik kotor, keluarlah dari masjid Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam.”

Imarah bin Hazm bangkit ke tempat Zaid bin Amr. Zaid adaiah seorang lelaki berjenggot panjang. Ia pegang jenggotnya, dan menariknya dengan kencang sampai ia dipaksa keluar masjid. Kemudian Imarah bin Hazm mengepalkan kedua tangannya dan memukul wajah Zaid bin Amr sehingga membuat Zaid bin Amr tersungkur jatuh.

Zaid bin Amr berkata, “Wahai Imarah, engkau telah mencideraiku!”.

Imarah bin Hazm berkata, “Wahai munafik kotor, mudah-mudahan Allah mencelakakanmu. Apa yang Allah persiapkan bagimu nanti jauh lebih mengerikan daripada tamparanku. Janganlah sekali-kali engkau mendekati masjid Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam.”

Abu Muhammad yang berasal dari Bani An-Najjar –pemilik nama lengkap Mas’ud bin Aus bin Zaid bin Ashram bin Zaid bin Tsa’labah bin Ghanm bin Malik bin An-Najjar– beranjak ke tempat dimana Qais bin Amr bin Sahl berada. Ia seorang pemuda satu-satunya di tengah orang-orang munafik saat itu, lalu ia mendorong tengkuk kepalanya sampai ia keluar dari masjid Nabi.

Seseorang dari bani Khadirah bin Al-Khazraj yang bernama Abdullah bin Al-Harits orang yang berasal dari kabilah yang sama dengan Sa’id Al-Khudri berjalan ke tempat Al-Harits bin Amr yang memiliki rambut sangat tebal, kemudian ia menarik rambutnya serta menyeretnya dengan kuat sampai dia tertarik keluar dari masjid.

Si munafik kotor Al-Harits bin Amr berkata kepada Abdullah bin Al-Harits, “Wahai anak Al-Harits, engkau telah berlaku di luar batas pada diriku.”

Abdullah bin Al-Harits menjawab, “Engkau sangat pantas menerimanya, wahai musuh Allah, karena Allah telah menurunkan firman-Nya tentang dirimu. Maka janganlah engaku pernah lagi mendekati masjid Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam karena sesungguhnya dirimu itu najis.”

Seseorang dari Bani Amr bin Auf bangkit ke tempat saudaranya yang bernama Zuwai bin Al-Harits lalu mengusirnya keluar dari masjid. Zuwai bin Al-Harits tidak menerima perlakuan seperti itu dari saudaranya. Maka ia berkata, “Setan telah menguasai dirimu dan kau berada dalam cengkeraman perintahnya.”

Sumber (islampos.com)

Sahabat Nabi yang Memimpikan Neraka!

PADA zaman Rasulullah saw, jika para sahabat yang mulia bermimpi, biasanya mereka akan menceritakannya kepada Baginda Rasul. Suatu malam, seorang sahabat nabi yang masih remaja bernama Abdullah bin Umar ra, pergi ke masjid Nabawi. Dia membaca Al-Quran sampai kelelahan. Setelah membaca Al-Quran cukup lama, dia hendak tidur.

Seperti biasa, sebelum tidur dia menyucikan dirinya dengan cara berwudhu, baru kemudian merebahkan badan dan berdoa.
Sambil pelan-pelan memejamkan mata, Abdullah bin Umar terus bertasbih menyebut nama Allah hingga akhirnya terlelap. Di dalam tidurnya yang nyenyak, dia bermimpi.

Dalam mimpinya, dia berjumpa dengan malaikat. Tanpa berkata apa-apa dua malaikat itu memegang kedua tangannya dan membawanya ke neraka. Dalam mimpinya, neraka itu bagaikan sumur yang menyalakan api berkobar-kobar. Luar biasa panasnya. Di dalam neraka itu, dia melihat orang-orang yang telah dikenalnya. Mereka terpanggang dan menaggung siksa yang tiada tara pedihnya.

Menyaksikan neraka yang mengerikan dan menakutkan itu, Abdullah bin Umar seketika berdoa, “Aku berlindung kepada Allah dari api neraka.”

Setelah itu, Abdullah bertemu dengan malaikat lain. Malaikat itu berkata, “Kau belum terjaga dari api neraka.”

Pagi harinya, Abdullah bin Umar mengis mengingat mimpinya. Lalu dia pergi ke rumah Hafshah bin Umar, Istri Rasulullah Saw. Ia menceritakan perihal mimpinya dengan hati yang cemas.

Setelah itu Hafshah menemui Bagin Rasul dan menceritakan mimpi saudara kandungnya itu kepada Baginda Rasul. Seketika itu beliau bersabda, “Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah bin Umar kalau dia mau melakukan shalat malam!”

Mendengar sabda Nabi tersebut, Hafshah bergembira. Dia langsung menemui adiknya Abdullah bin Umar dan berkata, Nabi mengatakan bahwa kau adalah sebaik-baik lelaki jika kau mau shalat malam. Dalam mimpi itu, malaikat terakhir yang kautemui mengatakan bahwa kau belum terjaga dari api neraka. Itu karena kau tidak melakukan shalat tahajud. Jika kauingin terselamatkan dari api neraka, dirikanlah shalat tahajud setiap malam. Jangan kau sia-siakan waktu sepertiga malam; waktu di mana Allah Swt memanggil-manggil hamba-Nya.

Apalagi jika dia juga mengingat sabda Nabi, “Sesungguhnya, penghuni neraka yang paling ringan siksanya pada hari kiamat adalah seseorang yang diletakkan pada kedua telapak kainya bara api yang membuat otaknya mendidih. Dia merasa tidak ada orang lain yang lebih berat siksanya daripada dia. Padahal, sesungguhnya siksa yang ia terima adalah yang paling ringan di dalam neraka.”

Dia berusaha sekuat tenaga untuk beribadah kepada Allah, mencari ridha Allah agar termasuk hamba-hambanya yang terhindar dari siksa api neraka dan memperoleh kemenangan surga.

Akhirnya dia bisa merasakan nikmatnya shalat tahajud. Betapa agung keutamaan shalat tahajud. Tidak ada yang lebih indah dari saat-saat ia sujud dan menangis kepada Allah pad malam hari.

Sumber (islampos.com)

Kisah Sahabat Abu Bakar As Siddiq



Kisah sahabat nabi, Abu Bakar As Siddiq. Dialah pria pertama yang beriman kepada Allah SWT dan mengakui kenabian Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Dia juga orang pertama yang mengakui perjalanan Isra dan Mikrajnya Rasulullah untuk menerima perintah Sholat.


Seperti apa kisah sahabat nabi, Abu Bakar As Siddiq?

Dikutip dari buku, Biografi Abu Bakar As Siddiq karya Muhammad Hasan Haekal disebutkan, nama kecil Abu Bakar adalah Abdul Kakbah. Konon nama itu merupakan pemberian sang Ibu yang pernah bernazar, jika melahirkan anak laki-laki maka akan diserahkan untuk pengabdian kepada Kakbah. Abu Bakar juga memiliki nama lain Atiq.

Setelah masa kenabian Muhammad SAW, Abu Bakar mendapat tambahan nama As Siddiq. Gelar itu diberikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebab dialah pria pertama yang beriman kepada Allas SWT dan mengakui Muhammad sebagai Rasulullah.

Abu Bakar jugalah yang pertama mengakui perjalanan Isra dan Mikrajnya Muhammad SAW di saat orang lain tak percaya bahkan ada yang murtad. Kisah sahabat nabi yang mengakui Isra dan Mikrajnya Muhammad ini terjadi pada suatu pagi 28 Rajab sekitar tahun 620 atau 621 masehi, 10 tahun sebelum hijrah ke Madinah.

Saat itu banyak orang kafir Quraisy bertanya kepada Abu Bakar, apakah dia percaya bahwa Muhammad pergi ke Baitul Maqdis dalam semalam di 27 Rajab.

إن كان قال فقد صدق

"Jika ia berkata demikian, maka itu benar," jawab Abu Bakar seperti dikutip dari muslim.or.id.

Selain sebagai orang pertama yang masuk Islam atau as-sâbiqûnal awwalûn Sayyidina Abu Bakar juga termasuk orang yang loyal terhadap Rasulullah SAW. Dia juga terkenal sangat zuhud.

Ada dialog antara Abu Bakar dengan putrinya, Sayyidah 'Aisyah seperti ditulis dalam kitab Anîsul Mu'minîn karya Shafuk al-Mukhtar. Dikutip dari nu.or.id, suatu hari Aisyah menjenguk ayahnya yang sedang terbaring sakit.

Kepada sang ayah, Aisyah menyarankan agar dipanggilkan seorang ahli pengobatan. Namun Abu Bakar mengaku sudah diobati. Kepada putrinya yang juga istri Rasulullah, Abu Bakar mengaku oleh ahli pengobatan dia diperbolehkan melakukan apa saja. Hal ini menandakan bahwa sakitnya Abu Bakar sudah parah dan mendekati kematian.

Musabab semua harta Abu Bakar sudah disedekahkan untuk perjuangan Islam, tak ada lagi yang tersisa bahkan untuk selembar kain baru sekalipun. Aisyah pun bertanya,"Dengan kain mana aku nanti mengafani jenazah Ayah?"

"Dengan baju yang biasa aku pakai saat makmum shalat bersama Rasulullah," jawab Abu Bakar.

Namun menurut Aisyah, baju itu sudah usang. Dia pun menawarkan untuk membeli kain kafan yang baru. Namun Abu Bakar menolaknya.

"Orang hidup lebih berhak atas sesuatu yang baru ketimbang orang mati," jawab Abu Bakar.

Abu Bakar As Siddiq wafat pada Senin 21 Jumadilakhir tahun ke-13 hijrah atau 22 Agustus 634 Masehi. Pada Senin petang Umar bin Khatab bersama dengan Usman bin Affan, Talhah bin Ubaidillah dan Abdur-Rahman bin Abu Bakar memakamkan jenazah Abu Bakar di samping liang lahat Rasulullah SAW.

Kisah sahabat nabi Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu'anhu meninggal tanpa meninggalkan sepeserpun dirham atau dinar.

Diriwayatkan dari Al Hasan bin Ali Radhiallahu'anhu:

"Ketika Al Hasan sedang bersama Abu Bakar Radhiallahu'anhu, Abu Bakar berkata, wahai 'Aisyah tolong perhatikan unta perahan yang biasa kita ambil susunya, dan mangkuk besar yang sering kita pakai untuk tempat penerangan, dan kain beludru yang biasa kita pakai. Sesungguhnya kita mengambil manfaat dari itu semua saat aku mengurusi urusan kaum muslimin. Jika aku mati, kembalikanlah semuanya kepada Umar. Maka ketika Abu Bakar wafat, 'Aisyah mengirim semua itu kepada Umar Radhiallahu'anhu. Umar pun berkata: 'Semoga Allah meridhaimu wahai Abu Bakar, sungguh lelah orang yang datang setelahmu'"

Kisah sahabat nabi setelah Abu Bakar wafat, Umar bin Khatab menjadi khalifah ke-2.

Sumber (detik)

Sa'ad bin Abi Waqash Sang Pemilik Doa Mustajab



Sa'ad bin Abi Waqash merupakan seorang sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk surga. Dia memeluk Islam ketika berumur 17 tahun. Suatu hari dalam hidupnya, ia didatangi Abu Bakar Ash-Shiddiq yang dikenal sebagai orang yang ramah.

Abu Bakar lantas mengajak Sa'ad untuk menemui Nabi Muhammad SAW di sebuah perbukitan dekat Makkah. Pertemuan itu mengesankan bagi Sa'ad. Ia pun segera menerima risalah Nabi Muhammad SAW dengan tangan terbuka. Sejak saat itu, Sa'ad menjadi salah satu sahabat yang pertama masuk Islam, yakni dalam era Makkah atau sebelum Hijrah.

Silsilahnya secara tidak langsung bersambung dengan Rasulullah SAW. Aminah binti Wahhab, yakni ibunda Nabi Muhammad SAW, berasal dari suku yang sama dengan Sa'ad, yaitu Bani Zuhrah.

Karena itu, Sa'ad juga sering disebut sebagai Sa'ad Zuhrah atau Sa'ad dari Zuhrah. Pria ini memiliki banyak keutamaan. Suatu saat dia pernah disambut Rasulullah SAW dengan gembira.

Rasulullah SAW begitu membanggakan Sa'ad. Beliau bersabda, "Ini dia pamanku...! Siapa orang yang punya paman seperti pamanku ini?" Kakeknya Sa'ad adalah Uhaib, putra dari manaf yang menjadi paman dari Ibunda Rasulullah SAW.

 Sa'ad dan Anak Panah Pertama

Selain itu, Sa'ad bin Abi Waqash juga merupakan orang Muslim yang pertama kali melepas anak panah dalam jihad Islam. Dia pula yang mula-mula terkena anak panah dalam kancah jihad.

Pernah suatu kali Rasulullah SAW bersabda di tengah Perang Uhud, "Panahlah hai Sa'ad! Ibu bapakku menjadi jaminan bagimu!" Ali bin Abi Thalib juga mengatakan: "Tidak pernah saya dengar Rasulullah mengatakan ibu bapaknya sebagai jaminan seseorang kecuali untuk Sa'ad."

Sa'ad adalah seorang kesatria Muslim yang paling berani. Ia mempunyai dua kekuatan yang sangat ampuh: panah dan doanya. Jika ia memanah, pasti tepat sasaran. Jika ia berdoa, akan dikabulkan-Nya. Hal ini tak lepas dari doa Rasulullah untuk Sa'ad. Suatu hari Rasulullah SAW menyaksikan sesuatu dari Sa'ad yang menyenangkan hati beliau. Maka Rasulullah SAW pun bermunajat, "Ya Allah, tepatkanlah bidikan panahnya (Sa'ad bin Abi Waqash) dan kabulkanlah doanya..!"

Demikianlah, diri Sa'ad menjadi ma syhur lantaran doanya disebut makbul. Kelak ketika fitnah terjadi pada zaman kekhilafahan Ali bin Abi Thalib, Sa'ad mendengar seorang laki-laki memaki Ali, Thalhah, dan Zubair. Orang itu bahkan terus menolak berhenti mencaci-maki.

Maka, Sa'ad pun berkata, "Kalau begitu, akan saya doakan kamu kepada Allah." Laki-laki tadi lantas berkata, "Rupanya kamu hendak menakutiku, seolah-olah kamu seorang Nabi."

Maka, Sa'ad pun pergi wudhu dan melakukan shalat dua rakaat kemudian berdoa: "Ya Allah, kiranya menurut ilmu-Mu, laki-laki ini telah memaki segolongan orang yang telah memeroleh kebaikan-Mu dan tindakan mereka mengundang amarah murka-Mu. Maka mohonlah dijadikan hal ini sebagai pertanda dan pelajaran."

Tidak lama kemudian, tiba-tiba dari salah satu pekarangan rumah muncul seekor unta liar dan menabrak laki-laki tadi sehingga meninggal.

 Memuliakan Orang Tua

Sa'ad adalah teladan istiqamah dalam iman dan hidayah. Betapa mahalnya hidayah itu bahkan harus dipertahankan dengan susah payah. Terkisahlah ibunda Sa'ad yang melakukan mo gok makan berhari-hari demi menentang keislaman anaknya.

Semakin hari semakin parahlah kondisi ibu Sa'ad ini. Dalam ujian keimanan yang berat seperti ini, keimanan sang sahabat kokoh menghujam dan keluarlah kalimat yang abadi itu. "Demi Allah, ketahuilah wahai ibunda, seandainya bunda memiliki seratus nyawa, lalu ia keluar satu per satu, maka tidak lah anakmu ini akan meninggalkan agama ini (Islam) walau ditebus dengan apa pun."

Akhirnya, hati ibundanya itu luluh. Tak lama berselang, turunlah ayat Alquran terkait kisah Sa'ad ini, surah Luqman ayat ke-15. Artinya, "Dan seandainya kedua orang tua memaksamu untuk mempersekutukan Aku (Allah), padahal itu tidak sesuai dengan pendapatmu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya."

Di antara cerita kepahlawanan Sa'ad yang lainnya adalah ketika pasukan Muslimin yang sedang dipimpinnya teradang Sungai Tigris. Kala itu, umat Islam akan membebaskan Irak. Padahal, wilayah itu belum banyak dikenal oleh kaum Muslimin umumnya yang berasal dari Jazirah Arab.

Alih-alih mundur, Sa'ad memerintahkan pasukannya untuk terus menyeberangi sungai demi menyukseskan jihad ini. Berkatalah ia kepada pasukan, "Bacalah Hasbunallahu wa ni'mal wakiil."

kemudian dikerahkan kudanya menerjuni sungai yang diikuti orang-orang setelahnya. Maka, berduyun-duyun pasukan Muslim menyeberangi sungai. Ketika ada salah seorang prajurit yang menjatuhkan air minumnya, dilandasi semangat fastabiqul khairat, pasukan Muslimin berebut mencarikan tempat air itu. Demi melihat pemandangan ini dan betapa tinggi semangat perjuangan kaum Muslimin, para musuh gentar dan ketakutan.

Salman al-Farisi yang berada dalam pasukan Sa'ad pun takjub dan berkata Agama islam masih baru, tetapi lautan telah dapat mereka taklukkan, sebagai halnya daratan telah mereka kuasai. Demi Allah nyawa Salman berada di tangan-Nya, pastilah mereka akan dapat keluar dengan selamat dengan ber bondong-bondong sebagaimana mereka memasukinya berbondong-bondong.

Sumber (Repulika)

Seorang yang Fisiknya Kerdil dan Pendek Jadi Rebutan Bidadari?







    Ada satu hadits Nabi SAW yang populer di kalangan umat muslim terutama bagi mereka para penuntut ilmu. Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian." (HR. Muslim)Hadits ini sejalan dengan salah satu firman Allah dalam Alquran yang artinya, "Sesungguhnya orang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa di antara kamu". (QS Al-Hujurat: 13)

Ada satu kisah sahabat Nabi yang begitu menyentuh hati karena memilih berjihad bersama Rasulullah SAW, daripada kenikmatan dunia. Allah pun menjadikannya syahid dan menjadi rebutan para bidadari. 

Namanya Julaibib radhiallahu 'anhu (RA), begitulah ia dipanggil. Namanya menunjukkan kalau ciri fisiknya yang kerdil dan pendek. Nama Julaibib merupakan nama yang tak biasa dan tidak lengkap. Nama ini bukan ia sendiri yang menghendaki, bukan pula orangtuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan ibunya.

Sumber (sindonews.com)

DENGAN ISTIGHFAR, REJEKI AKAN MENGALIR

Seorang wanita berkisah : "Suamiku meninggal dunia saat aku berumur tiga puluh tahun. Waktu itu, aku telah dikaruniai lima orang anak. Tak ayal, dunia pun terasa gelap gulita di mataku, dari hari ke kari aku hanya bisa menangis seraya meratapi nasibku hingga kering air mataku. Aku semakin putus asa dan hari-hariku terus diliputi oleh kesedihan, kegundahan, dan kecemasan. Apalagi, bila aku mengingat kelima anak-anakku yang masih kecil-kecil, sedang diriku sama sekali tidak memiliki pendapatan yang memadai untuk hidup mereka. Akhirnya, aku pun menjual sedikit demi sedikit harta peninggalan suamiku yang tak seberapa. Syahdan, suatu hari aku menyendiri di kamar sambil mendengarkan siaran Al-Quran dan ceramah dari sebuah radio transistor. Lalu, terdengar olehku seorang syaikh menuturkan, "Barangsiapa memperbanyak istigfar, maka ALLAH akan mengusir segala kesedihan yang menghantuinya dan memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan yang menghimpitnya". Sejak mendengar ceramah itu, aku terus memperbanyak istigfar. Demikian juga dengan anak-anakku, aku perintahkan mereka untuk melakukan hal yang sama. Tidak disangka, enam bulan kemudian sebuah proyek besar membutuhkan sebagian tanah kami dan siapa memberi ganti rugi berjuta-juta. Bersamaan dengan itu, anakku yang pertama berhasil menjadi pelajar tauladan di kota kami. Bahkan, ia sudah hafal al-Quran dengan sempurna dan sering mendapat undangan pengajian di masyarakatku. Singkat cerita, sejak itu rumah kami serasa dipenuhi dengan anugerah, hidup kami lebih nyaman dan sejahtera dan ALLAH menjadikan putera-puteriku sebagai orang-orang yang sukses dan sholeh. Demikianlah kesedihan, kecemasan, kerisauan, dan kegelisahan pun sirna dariku. Dan akhirnya, aku pun menjadi wanita paling bahagia". (Menjadi Wanita Paling Bahagia, 2007)