Monday, May 18, 2020

PENYAKIT HATI II!



Hati-hati Dengan Hati

 

Hati merupakan pusat dari seluruh anggota tubuh manusia. Jika hati ini baik, maka seluruhnya akan baik pula. Sebaliknya, jika hati itu rusak, penyakit hati menjangkiti, maka rusak juga seluruh anggota. Sebagaimana yang Nabi sabdakan:

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ. رواه البخاري ومسلم.

 

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika segumpal daging tersebut buruk, maka) buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati”. (HR al-Bukhari dan Muslim)

 

👉 Kerusakan hati merupakan suatu hal yang fatal, karena penyakit hati lebih rumit untuk diobati daripada penyakit yang terjadi secara zahir, karena penyakit hati merupakan penyakit batin. Di antara penyakit hati yaitu ‘Ujub, Takabbur, Sum'ah, dan Hasud.  Dalam kitab Imam an-Nawawi, at-Tibyân fî Adâb Hamalati al-Qurân¸ ada doa yang berbunyi:

 

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوْبَنَا وَأَزِلْ عُيُوْبَنَا وَتَوَّلَنَا بِالْحُسْنَى وَزَيِنَّا بِالتَّقْوَى وَاجْمَعْ لَنَا خَيْرَ الآخِرَةِ وَالْأُوْلَى وَارْزُقْنَا طَاعَتَكَ مَا أَبْقَيْتَنَا

 

”Ya Allah, perbaikilah hati kami, hilangkanlah keburukan kami, bimbinglah kami dengan jalan yang terbaik, hiasilah kami dengan ketakwaan, kumpulkanlah bagi kami kebaikan akhirat dan dunia dan anugerahkanlah kami ketaatan kepada-Mu selama Engkau menghidupkan kami.

 

👉Meski doa ini masuk ke dalam bagian doa Khatmil Quran, secara lafaz dan isi yang terkandung dari doa di atas, kita dapat juga membacanya agar hati kita diperbaiki oleh Allah swt. Oleh karena itu,  maka umat Islam berkewajiban untuk menjauhi dosa besar dan dosa kecil. Mereka perlu mengetahui mana perbuatan yang mengandung kemaksiatan untuk dihindari. Mereka juga dianjurkan untuk berdoa sebagai bagian dari ikhtiar untuk menjauhi masiat tersebut.

 

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ التَوْبَةَ وَدَوَامَهَا وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ المَعْصِيَةِ وَأَسْبَابِهَا وَذَكِّرْنَا بِالخَوْفِ مِنْكَ قَبْلَ هُجُومِ خَطَرَاتِهَا، وَاحْمِلْهُ عَلَى النَّجَاةِ مِنْهَا وَمِنْ التَّفَكُّرِ فِي طَرَائِقِهَا وَامْحُ مِنْ قُلُوبِنَا حَلَاوَةَ مَا اجْتَبَيْنَاهُ مِنْهَا، وَاسْتَبْدِلْهَا بِالكَرَاهَةِ لَهَا وَالطَّمَعِ لِمَا هُوَ بِضِدِّهَا

 

Artinya, “Ya Allah, kepada-Mu kami meminta pertobatan dan kelanggengannya. Kepada-Mu, kami berlindung dari maksiat dan sebab-sebabnya. Ingatkan kami agar takut kepada-Mu sebelum datang bahaya maksiat. Bawakan ketakutan itu untuk menyelamatkan kami dari maksiat dan dari pikiran di jalanan maksiat. Hapuskan kelezatan maksiat yang kami pilih dari hati kami. Gantikan kenikmatan itu dengan rasa tidak suka dan keinginan terhadap lawanan maksiat,”

 

👉 Doa ini diawali dengan permohonan tobat dan istiqamah di dalamnya. Doa ini juga berisi harapan agar Allah mengenyahkan kenikmatan maksiat dari dalam hati. Semoga Allah memberikan manfaat kepada kita melalui doa ini.


PENYAKIT HATI!



Mawas Diri dari Penyakit Hati

 

Hati adalah cermin diri. Jika hati kita kotor, akhlak dan perilaku kita pun akan lebih kuat ke arah yang maksiat. Untuk itu, mari kita kenali penyakit-penyakit hati dan cara mengobatinya. Bila seseorang mengidap penyakit hati, maka dampaknya sungguh-sungguh sangat dahsyat. Ia tidak hanya tak mampu merasakan ketenangan, ketenteraman dan kebahagiaan dalam hidupnya, tapi penyakit hati itu secara perlahan akan menggerogoti fisiknya hingga membuatnya didera berbagai penyakit.

 

👉 Tentu saja penyakit hati sangat banyak ragamnya, mulai dari iri hati, dengki, hasut, fitnah, buruk sangka, dan khianat.

 

Iri hati adalah suatu sifat yang tidak senang akan rezeki dan nikmat yang didapat oleh orang lain dan cenderung berusaha untuk menyainginya. Iri hati yang diperbolehkan dalam ajaran Islam adalah iri dalam hal berbuat kebajikan seperti iri untuk menjadi pintar agar dapat menyebarkan ilmunya di kemudian hari dan semacamnya.

 

Dengki adalah sikap tidak senang melihat orang lain bahagia dan berusaha untuk menghilangkan nikmat tersebut. Sifat ini sangat berbahaya karena tidak ada orang yang suka dengan orang yang memiliki sifat seperti ini. Begitupun hasud, merupakan suatu sifat yang ingin selalu berusaha mempengaruhi orang lain agar amarah orang tersebut meluap dengan tujuan agar dapat memecah belah persatuan dan tali persaudaraan agar timbul permusuhan dan kebencian antar sesama.

 

👉 Apalagi fitnah, yakni menjelek-jelekkan, menodai, merusak, menipu, membohongi seseorang agar menimbulkan permusuhan sehingga dapat berkembang menjadi tindak kriminal pada orang lain tanpa bukti yang kuat.

 

👉 Belum lagi buruk sangka. Buruk sangka berarti sifat yang curiga atau menyangka orang lain berbuat buruk tanpa disertai bukti yang jelas. Sedangkan khianat merupakan sikap tidak bertanggung jawab atau mangkit atas amanat atau kepercayaan yang telah dilimpahkan kepadanya. Khianat biasanya disertai bohong dengan mengobral janji. Khianat adalah ciri-ciri orang munafik, Nauzubillah.

 

👉 Lalu, solusinya apa? Setidaknya ada dua hal, yakni ikhlas dan tawakkal. Ikhlas adalah salah satu amal hati dan berada pada bagian pertama dari rangkaian seluruh amal-amal hati. Kesempurnaan sebuah amal, diterima atau ditolaknya bergantung pada amal hati ini, ikhlas atau tidak.

 

👉 Berikutnya tawakkal. Kita harus yakin bahwa tak ada sesuatu pun yang menimpa kita di dunia ini, besar atau kecil. kecuali bahwa Allah telah menetapkannya sebelum kita lahir. Maka setelah kita berikhtiar dan berusaha secara maksimal, akhir dari itu adalah kepasrahan diri dan tawakkal atas apa yang ditakdirkan Allah. Insya Allah dengan tawakkal, kita bisa ikhlas dan rida menerima segala hal. Allah berfirman, "Katakanlah 'Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialan Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal..'," (QS At Taubah: 51).

 

Solusi selanjutnya adalah berzikir dan istigfar. Zikir adalah amalan yang diperintahkan Allah SWT kepada kita. Karena dengan zikir ini kita dapat menghadirkan Allah dalam diri kita, kapan pun dan di mana pun kita berada. Ketika muroqobah (pengawasan) Allah melekat dalam diri kita, maka selalu ada usaha agar berbagai aktivitas yang dilakukan senantiasa berada dalam bingkai syariat dan sunah Rasul-Nya.

 

👉 Kita juga tidak pernah lepas dari dosa dan kesalahan, sehingga lantunan istigfar harus diperbanyak. Bahkan, Rasulullah Saw beristigfar 100 kali setiap hari, padahal beliau telah dijamin masuk surga. Maka kita yang tidak mendapatkan jaminan tersebut selayaknya lebih banyak dari jumlah istigfar Rasulullah Saw. Allah SWT berfirman:

 

 رَبَّنَا اغْفِرْ لَـنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَاۤ اِنَّكَ رَءُوْف رَّحيم

Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan jangan Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang". (QS:  59 : 10)





Sunday, May 17, 2020

PERUSAK AMAL IBADAH



Ghibah Perusak Amal Ibadah

Mungkin, selama ini kita mengira bahwa perbuatan ghibah hanyalah kesalahan biasa, bahkan menganggapnya bukan sebagai kesalahan, saking seringnya lidah kita dipergunakan untuk menggunjing, mengungkap, dan menyebarkan aib orang lain; atau saking ringannya jari-jari kita dipergunakan untuk menulis kata-kata umpatan dan hinaan kepada orang lain melalui media sosial. Na'udzu billah. Padahal, ghibah merupakan perbuatan dosa besar, sebab disebutkan dalam Alquran. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain, (Surat Al-Hujurat: 12).

Menurut para ulama, di antara kriteria dari perbuatan dosa besar adalah larangan dan ancamannya disebutkan langsung dalam Alquran. Namun, sebelum masuk kepada ancaman dan konsekuensi dari perbuatan tersebut, ada baiknya kita melihat bagaimana pengertian ghibah itu sendiri. Sebab, boleh jadi banyaknya orang yang berbuat ghibah karena belum mengenali batasan-batasannya.

👉 Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw, “Apa itu ghibah, ya Rasul?” Ia menjelaskan, “(Ghibah itu) menceritakan saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukainya.”. Sahabat tadi bertanya lagi, “Bagaimana jika apa yang aku ceritakan itu benar-benar terjadi pada saudaraku?” Dijawab oleh Rasulullah saw, “Jika apa yang kau ceritakan itu benar-benar terjadi, berarti kau telah mengghibahnya. Namun, jika apa yang kau ceritakan itu tidak terjadi, berarti kau telah berbuat kebohongan padanya.”

Dari hadis di atas, dapat disimpulkan bahwa ghibah artinya menceritakan apa yang terjadi pada orang lain yang apabila terdengar oleh orang yang diceritakannya pasti tidak menyukainya, meski apa yang diceritakan itu benar-benar terjadi padanya.☘

👉 Suatu hari, Siti ‘Aisyah pernah bercerita di hadapan Nabi saw tentang seorang wanita. Terakhir, Siti ‘Aisyah memungkas, “Alangkah pendeknya wanita itu, ya Rasul!” Mendengar demikian, ia langsung menegur, “Sungguh kau telah menggunjingnya.” Pernyataan Rasulullah saw itu mengisyaratkan bahwa apabila yang disampaikan Siti ‘Aisyah itu terdengar oleh wanita tadi, pasti tidak menyukainnya, meski keadaan wanita tersebut memang demikian adanya.

👉 Anehnya, mengapa para pelaku ghibah seakan mendapatkan “kenikmatan” tersendiri saat melakukannya. Tidaklah mengherankan karena Iblis senantiasa menggoda manusia melalui berbagai pintu, termasuk dari ghibah ini. Konon, bibir orang-orang yang senang berbuat ghibah, oleh Iblis dilumati dengan madu, sebagaimana dikisahkan Al-Ghazali dalam Mukâsyafatul Qulub. Tujuannya agar mereka selalu merasa “manis” saat membicarakan dan menyebarkan aib orang.

Dikisahkan, dalam sebuah perjalanan, Nabi Isa as pernah bertemu dengan Iblis yang sedang membawa madu di salah satu tangannya dan membawa abu di tangan lainnya. Ditanya oleh Nabi Isa, “Apa yang akan kaulakukan dengan madu dan pasir itu, hai musuh Allah?” Iblis menjawab, “Madu ini akan kuoleskan pada bibir para ahli ghibah agar mereka merasa manis dan semakin giat melakukan ghibahnya. Sementara abu ini kubalurkan pada wajah anak-anak yatim, sehingga orang-orang merasa benci kepada mereka.”


BEBERAPA TIPE ORANG YANG DIBENCI OLEH ALLAH SWT!



Orang-orang yang Dilaknat Allah

Sayyidina Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai seorang sahabat yang cerdas. Ia kerap kali menjadi rujukan jika para sahabat mendapati persoalan. Kecerdasannya tidak diragukan lagi manakala Rasulullah memberikan testimoni langsung tentang hal itu. Kata Rasulullah, dirinya adalah gudangnya ilmu, sementara Sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah kunci atau pintunya ilmu.

👉 Sayyidina Ali bin Abi Thalib masuk Islam ketika usianya sepuluh tahun. Hal itu menjadikannya sebagai orang yang pertama kali memeluk Islam dari kalangan anak-anak. Selain menjadi umat Rasulullah di masa-masa awal perjuangan Islam, Sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah sepupu Rasulullah. Kondisi itu menjadikan Sayyidina Ali sering bersama dan berinteraksi dengan Rasulullah. Bahkan ketika Rasulullah hendak dikepung dan hendak dibunuh oleh para elit kaum musyrik Makkah, Sayyidina Ali lah yang menggantikan posisi Rasulullah di dalam rumahnya. Hal ini menjadi ‘keuntungan’ tersendiri bagi Sayyidina Ali. ☘

👉 Dekat dengan Rasulullah membuat Sayyidina Ali mendapatkan banyak informasi, terutama yang berkaitan dengan risalah kenabian. Maka tidak heran jika ada sahabat yang bertanya kepada Sayyidina Ali tentang suatu hal. Hingga ada salah seorang sahabat yang ‘penasaran’ dengan Sayyidina Ali. Maksudnya, sahabat tersebut penasaran kalau-kalau ada pesan dari Rasulullah yang hanya diperuntukkan atau dikhususkan untuk Sayyidina Ali.

👉 “Wahai Amirul Mukminin! Pesan Rasulullah saw. apakah yang hanya dirahasiakan dan dikhususkan kepadanya?” tanya sahabat tersebut. Sayyidina Ali menjawab kalau tidak ada pesan khusus untuknya dari Rasulullah, sebagaimana yang ditanyakan sahabat tersebut. Namun kata Sayyidina Ali, Rasulullah memberitahukan kepadanya tentang empat orang yang dilaknat Allah, sebagaimana hadis Riwayat Muslim dari Abu Thufail Amir bin Watsilah. Yaitu :

👉 Pertama, Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda bahwa ridho Allah itu ada pada ridho orang tua dan murka Allah itu juga ada pada murka orang tua. Dalam hadis lain, riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Amr bin Ash, Rasulullah menyebut kalau melaknat kedua orang tua termasuk dari dosa-dosa paling besar.

👉 Kedua, Allah melaknat orang yang menyembelih hewan dengan menyebut nama selain Allah. Selain membuat Allah melaknat, menyembelih hewan dengan tidak menyebut nama Allah membuat hewan tersebut menjadi haram dikonsumsi.

👉 Ketiga, Allah melaknat orang yang melindungi pendusta. Allah juga akan murka kepada seseorang yang melindungi pelaku kriminal, pencuri, dan pendusta.

👉 Keempat, Allah melaknat orang-orang yang mengubah batas tanah. Selain dilaknat, orang-orang yang mengambil tanah orang lain secara zalim juga akan mendapatkan siksaan yang pedih di akhirat kelak. Sesuai hadis Rasulullah, jenis orang keempat ini akan disiksa dengan dikalungkan padanya tujuh lapis bumi akibat mengubah batas tanah atau mengambil tanah orang lain secara zalim.


BERSYUKURLAH MAKA BERTAMBAH!



Menggapai Karunia Berlimpah.

  Alkisah, Imam Hasan al-Basri kedatangan tiga kelompok tamu. Kelompok pertama mengadukan perihal kekeringan. Kelompok kedua perihal berkurangnya rezeki serta harta. Kelompok ketiga karena belum hadirnya keturunan. Imam Hasan al-Basri menjawab semua permohonan tersebut dengan surat Nuh ayat 10 sampai 12 yang memerintahkan kita untuk beristigfar atau memohon ampunan.

  ''Maka, aku katakan kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha pengampun'. Niscaya Dia akan mengirim hujan kepadamu dengan lebat. Dan, membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.''

  Ada empat keutamaan istighfar yang terkandung dalam tiga ayat di surat Nuh ini.

Pertama, orang yang rajin beristigfar tidak akan mengalami kekeringan. Allah swt mengirimi mereka hujan yang lebat, yang tidak menimbulkan banjir, tapi justru menambah sumber air.

Kedua, dengan beristigfar, Allah swt akan mengucuri banyak harta kepada kita. Ketiga, Allah swt akan memberikan keturunan. Keempat, Allah swt akan memberikan kepada kita kebun dan sungai-sungai dengan pemandangan alam yang sangat indah.

 👉 Beristighfar, dapat dijelaskan dengan sebuah alur logika sebab-akibat yang kuat. Pertama, beristigfar 'memaksa' kita untuk melakukan evaluasi dan introspeksi. Faktanya, orang yang berani mengevaluasi dirinya, insya Allah, akan menemukan penyebab berbagai masalah. Tentu, sekaligus bersama dengan solusinya.

 👉 Sebagai contoh, kekeringan terjadi mungkin akibat siklus ekologi yang terganggu. Kondisi kesulitan harta, mungkin akibat kita belum maksimal mencarinya, kurang cerdas, atau prosesnya tidak halal. Belum hadirnya anak, mungkin karena adanya gangguan kesehatan, stres, atau faktor genetika.

 Kedua, istighfar mengandung komitmen untuk berubah ke arah yang lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan. Beristigfar mengundang komitmen untuk melaksanakan perbaikan dan mencoba sampai berhasil. Tanpa komitmen, istighfar dan bertobat dianggap tidak sah. Oleh karena itu, mari perbanyak istighfar mohon ampun pada Allah di keheningan malam salat tahajud kita.


SHALAT LAIL SALAH SATU JALAN PINTAS KE SYURGA



Menggapai Surga dengan Salat Lail

 👉Ketika ada orang yang bertanya kepada kita, bagaimana jalan untuk menggapai surga, tentu kita akan menjawabnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah Nabi Muhammad saw. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad ini :

 

أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَصَلُّوا الليل وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

 

Artinya: Sebarkan kedamaian, berikan makanan, bersilaturrahimlah, shalatlah ketika orang-orang tidur, engkau akan masuk surga dengan damai.

 

Pertama, orang yang menebarkan salam, perdamaian dan kasih sayang.

 

Imam an-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim menjelaskan bahwa ucapan salam tidak sekadar kata-kata, namun mengandung arti menebarkan perdamaian, kasih sayang dan kerukunan terhadap sesama, baik kepada keluarga, tetangga, maupun terhadap sesama Muslim. Hadis tersebut memberikan pelajaran kepada kita bahwa tidak diperkenankan bagi seorang Muslim untuk membenci dan menghujat sesama Muslim, menyebarkan permusuhan, menebarkan ujaran kebencian dan memutuskan tali persaudaraan.

 

Kedua,  memberikan makanan. Selain kita diwajibkan untuk mengeluarkan nafkah untuk keluarga, atau mengeluarkan zakat atas harta, Nabi menganjurkan kepada kita untuk bersedekah, terutama bagi orang-orang yang membutuhkan.

 

👉 Sebagaimana riwayat Imam Turmudzi dalam sunan Turmudzi Juz 3 halaman 407 disebutkan:

 

السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنَ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنَ النَّارِ

 

Artinya: “Orang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka.”

 

👉 Sikap dermawan tumbuh dari penghayatan seseorang tentang iman dan tauhid kepada Allah swt. Sehingga muncul sikap tawakkal dan berserah diri kepada Allah, secara otomatis muncul sikap percaya bahwa Allah adalah pemberi rezeki. Seorang dermawan yakin bahwa orang berbuat baik dengan mensedekahkan sebagian hartanya, Allah pasti akan menggantinya sepuluh kali lipat kebaikan.

 

Ketiga, menjalin silaturrahim dan persaudaraan, walaupun hanya dengan ucapan salam.

 

Dalam sebuah riwayat Imam Hakim dalam Kitab Mustadrok Ala Shohihain Juz 2 halaman 563, dengan sanad yang shahih Nabi bersabda:

 

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ حَاسَبَهُ اللَّهُ حِسَابًا يَسِيرًا وَأَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِهِ قَالُوا: لِمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: تُعْطِي مَنْ حَرَمَكَ، وَتَعْفُو عَمَّنْ ظَلَمَكَ، وَتَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ» قَالَ: فَإِذَا فَعَلْتُ ذَلِكَ، فَمَا لِي يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: أَنْ تُحَاسَبَ حِسَابًا يَسِيرًا وَيُدْخِلَكَ اللَّهُ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِهِ

 

Artinya: "Tiga hal yang menjadikan seseorang akan dihisab Allah dengan mudah dan akan dimasukkan ke surga dengan Rahmat-Nya. Sahabat bertanya, bagi siapa itu wahai Rasulullah saw? Nabi bersabda: Engkau memberi orang yang menghalangimu, engkau memaafkan orang yang mendzalimimu, dan engkau menjalin persaudaraan dengan orang yang memutuskan silaturrahim denganmu. Sahabat bertanya, jika saya melakukannya, apa yang saya dapat wahai Rasulullah saw? Nabi bersabda: engkau akan dihisab dengan hisab yang ringan dan Allah akan memasukkanmu ke surga dengan rahmat-Nya."

 

Keempat, menjalankan salat malam ketika banyak orang telah tidur terlelap.

 

👉 Salat malam menjadi salat yang spesial karena dilakukan di waktu banyak orang beristirahat dan lalai dari berdzikir kepada Allah swt Salat malam juga menjadi indikasi seseorang jauh dari riya’ dan pamer dalam beribadah, karena di waktu ini banyak orang beristirahat. Nabi juga bersabda: “Seutama-utama puasa setelah ramadhan adalah puasa di bulan Muharram, dan seutama-utama salat sesudah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim No. 1163)

 

👉 Jika kita konsisten dan istiqamah dengan anjuran Nabi tersebut, Allah akan memberikan kita pertolongan untuk mengerjakan kebaikan dan menjauhi perbuatan yang kurang menyenangkan, sehingga di akhir hayat kita mendapatkan kematian yang husnul khotimah. Allâhumma Âmîn.


SUJUD ADALAH KEADAAN PALING DEKAT DENGAN ALLAH




Sujudmu Mengangkat Derajatmu

✍ Seseorang harus mengetahui dalam posisi manakah ia paling dekat dengan Allah swt. Sehingga ia bisa menggunakan kesempatan tersebut untuk berdoa dan memohon ampun kepada-Nya. Dalam hadis ini Rasulullah saw telah mengungkapkan bahwa posisi seseorang yang paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia dalam keadaan sujud.

👉 Dalam Hadis Sahih Muslim, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda: “Saat paling dekat seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika dia sedang sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah berdoa (sewaktu sujud).

✍ Masing-masing amalan memiliki keutamaan sendiri. Begitu juga saat seseorang bersujud kepada Allah swt, adalah sebuah keutamaan yang tidak dimiliki oleh amalan lainnya. Disebutkan dalam sebuah hadis dari Imam Muslim, bahwa Ma'dan bin Abu Thalhah al-Ya'muri berkata, “Aku berjumpa dengan Tsauban (Maulah Rasulullah saw), dan kukatakan (padanya), ‘Beritahu kepadaku tentang sesuatu amal yang harus aku lakukan agar Allah swt memasukan aku ke dalam surga!’ atau aku katakan amal apa yang paling Allah sukai.’ Dia pun terdiam. Lalu aku bertanya lagi, tetapi dia masih terdiam. Kemudian kutanyakan kepadanya kembali untuk yang ketiga kalinya. Lantas dia berkata, ‘Aku telah menanyakan hal itu kepada Rasulullah saw dan beliau menjawab,: "Engkau harus memperbanyak sujud kepada Allah karena setiap kali engkau sujud kepada Allah, pastilah dengannya Allah mengangkatmu satu derajat lebih tinggi sekaligus menghapuskan satu kesalahan (dosa).

👉 Imam Muslim juga meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda: “Apabila anak Adam membacakan Ayat Sajadah, lalu dia bersujud maka syaitan pergi menyendiri sambil menangis dan berkata, ‘Celakalah aku! Dalam riwayat Abu Kuraib menggunakan lafaz "ya waili". Anak Adam diperintahkan bersujud, lalu dia bersujud, dia pun masuk surga. Sedangkan aku diperintahkan bersujud tapi aku menolak, aku pun masuk ke dalam neraka.’